Usaha, Hasil, dan Takdir

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk, 67: 1 – 2).

Salah satu frasa yang membuat saya sangat suka dengan awalan surat ini, yaitu “supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. Bahwa ternyata ada keterkaitan antara usaha, hasil, dan takdir, serta mengapa Allah menguji kita siapa yang lebih baik amalnya. Dalam hal ini, mari kita buka seluas-luasnya kerangka pikir kita bahwa frasa amal tidak hanya berkaitan dengan ritual agama, seperti sedekah, puasa, dan lainnya, namun lebih luas dari itu, amal adalah tindakan, kerja, dan perbuatan. Ahsanu amala berarti yang terbaik perbuatannya, kerjanya.

Dalam sebuah kasus, seorang suami sedang menemani istrinya yang sakit keras di sebuah rumah sakit. Sudah dua tahun lamanya sakit itu diderita sang istri, sehingga mengharuskan istri tersebut bolak-balik masuk rumah sakit baik untuk sekedar check up rutin maupun rawat inap jika kondisi memang sedang memburuk. Suaminya adalah suami yang sangat setia, dengan penuh kesabaran dan kerja keras sang suami tetap menemani istri selama sakit, baik dikala senang ataupun susah. Tidak sedikit pula uang yang dikeluarkan keluarga tersebut untuk pengobatan istrinya. Kali ini kondisi istri yang disayanginya itu memang sedang melemah.

Dengan penuh kesabaran dan doa, setiap harinya suami tersebut selalu di samping istrinya, usaha yang ada sebagai pemasukan utama keluarga saat ini dititipkan pengelolaannya oleh adik kandung suami tersebut. Tiap hari, dalam sholatnya, tahajudnya, tilawahnya, yang terbayang adalah senyum indah istrinya saat sudah sembuh. Ia sangat mengharapkan istrinya bisa cepat sembuh.

Namun, Allah berkehendak lain, kondisi istri semakin memburuk dan keesokan harinya, Allah memanggil belahan jiwanya untuk kembali kepada-Nya. Lunglailah suami yang perhatian dan sabar tersebut, ia seperti benar-benar kehilangan penyemangat hidupnya, tiada lagi tempat ia berbagi, tiada lagi orang yang selalu mendampinginya kemanapun ia pergi.

Maha Suci Allah, yang telah mendesain semuanya yang terjadi di dunia ini, sungguh, alam semesta ini berada di dalam genggaman-Nya. Tiada kejadian yang terlewati di dunia itu kecuali sudah tercatat tetap di Lauhul Mahfuz. Tiada sehelai daun yang jatuh kecuali itu memang sudah merupakan takdir Allah. Selama ini mungkin kita mengetahui bahwa takdir yang sudah tetap (fixed) adalah takdir mengenai kematian, jodoh, dan rizki. Namun ternyata, tidak hanya itu, pada dasarnya semua takdir sudah rapih tersimpan dalam catatan-Nya, dan sifatnya sudah tetap, sekalipun sehelai daun yang jatuh.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali-‘Imran, 3: 145).

Adanya ketetapan Allah ini bukanlah membuat kita pesimis dan bahkan tidak berbuat karena berpikir bahwa segala sesuatu sudah diatur. Namun justru di situlah titik unik dari sebuah takdir, yaitu walaupun sudah ditetapkan, namun kita tidak pernah tahu apa takdir itu sebelumnya, dan takdir biasanya muncul setelah usaha. Suami tersebut tidak pernah tahu sebelumnya apakah istrinya akan sehat atau tidak. Inilah tanda tanya itu, Allah hendak mendidik kita. Bahwa takdir itu adalah area kekuasaan Allah, dan tidak ada intervensi dari manusia manapun.

Sementara, area kekuasaan manusia adalah usaha. Seperti yang dilakukan suami tersebut, usaha yang tidak bisa dianggap kecil lagi, telah berkorban waktu, tenaga, harta, demi istri yang disayangi. Allah memberikan ruang gerak yang bebas bagi manusia untuk mengatur area kekuasaannya itu sendiri, sampai sejauh mana usaha atau kerja yang dilakukannya.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah, 9: 35).

Namun, takdir bisa diubah oleh Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Takdir bisa diubah dengan doa, di sinilah Allah juga mendidik kita untuk selalu optimis dan berbaik sangka pada Allah.

Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal shalih). (HR. Ath-Thahawi, HR. Al-Tirmidzi dari Salman ra).

Namun terkadang, meskipun kita telah berusaha dan berdoa, nyatanya hasil itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan lagi-lagi di sinilah letak Allah mendidik kita, bahwa itu adalah ketetapan Allah yang harus kita lalui, ingat juga bahwa Allah tidak akan memberi cobaan kepada seorang hamba kecuali hamba itu mampu menghadapinya. Seperti istri yang pada akhirnya meninggal dunia, padahal segala usaha dan doa telah dilakukan suaminya.

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (QS. Al-Insaan, 76: 24).

Itu menandakan bahwa Allah mengajarkan kita bahwa tingkat kemuliaan seorang hamba adalah pada prosesnya, baik proses dalam usaha mencapai harapannya, ataupun proses dalam menghadapi harapan yang tercapai atau tidak tercapai. Process Oriented. Berbeda dengan pola pikir manusia yang result oriented. Namun sekali lagi, ini bukan tanda bahwa kita tidak usah memasang harapan, namun hal ini mengajarkan kita untuk ikhlas ketika apa yang terjadi tidak sesuai harapan.